RESPECT, demikianlah pesan utama dari kejuaraan sepakbola piala eropa 2016 yang berlangsung di Perancis. Pesan “Respect” ini bisa di temukan dengan sangat jelas di setiap lengan kiri pemain sepak bola yang berpartisipasi di kejuaran ini, dan menjadi iklan utama di setiap siaran langsung sepakbola yang di tayangkan. Pesan ini juga selalu di tampilkan di setiap seremoni sebelum permainan dimulai. Bila pertanyaannya kenapa pesan ini begitu penting dan ada dimana mana. Jawabannya tentu sangat sederhana dan sungguh sangat mulia yaitu setiap pemain harus menghormati setiap pemain lainnya, apapun ras, warna kulit, agama yang dianut pemain lainnya atau pemain lawan, sehingga pertandingan sepakbola ini dapat berlangsung dengan tertib tanpa ada perselisihan diantara pemain.
Pesan Respect ini juga tidak hanya di tujukan kepada para pemain atau kepada team yang berpartisipasi, tapi juga di tujukan kepada para supporter pendukung untuk juga selalu menghormati para pemain walaupun berbeda ras, walaupun berbeda warna kulit ataupun perbedaan agama yang di anut oleh pemain yang mereka saksikan. iklan yang berisi pesan Respect ini hampir selalu muncul berulang ulang di televisi, adapun alasannya karena kejuaraan sepak bola ini sesungguhnya tidak hanya sebatas permainan antar pemain atau antar team yang di saksikan oleh penonton yang hadir di stadion , tapi juga di siarkan hampir keseluruh dunia. Oleh karena tingginya uang pendapatan dari penjualan licensi penyiaran langsung kejuaran ini ke seluruh dunia, membuat panitia mewajibkan kepada pemain dan team peserta untuk bermain dengan sangat profesional tanpa ada perkelahian diantara para pemain atau diantara para supporter.
Ditengah issue membanjirnya para pengungsi yang datang ke eropa, thema yang ada hubungannya dengan ras, warna kulit, agama saat ini di eropa sangatlah sensitif dan sering kali bisa memicu kerusuhan. Bila ini sampai terjadi, kejuaran piala eropa 2016 yang di balut dalam kemasan busines bisa menjadi rugi dan mengurangi pendapatan panitia dan tentunya juga akan berujung pada berkurangnya penghasilan para pemain yang mereka dapatkan dari uang tampil di setiap permainannya. Kentalnya sentuhan busines pada kejuaran ini bisa di lihat dengan jelas dari perubahan jumlah peserta yang berpartisipasi. Piala eropa yang semula di ikuti oleh hanya 16 team, namun karena alasan untuk memperbanyak pendapatan dari sponsor maka jumlah pertandingan yang di siarkan oleh stasiun televisi haruslah di perbanyak. Yang artinya jumlah team yang ikut berpatisipasi di kejuaran ini di tambah menjadi 24 negara.
Bila di cermati dengan seksama formula team yang lolos dari fase group kali ini memang sedikit membingungkan yaitu tidak hanya team yang menempati ranking di group dengan posisi 1 dan 2 yang otomatis lolos ke putaran berikutnya, melainkan beberapa team yang berada di urutan ke 3 pun bisa memiliki peluang lolos keputaran berikutnya. Hal ini sempat dikeluhkan oleh pelatih sepak bola dari negara besar seperti jerman Joachim Low. Alasan yang disampaikan oleh Joachim Low sesungguhnya masuk akal, karena ia ingin hanya team team yang memang terbaiklah yang seharusnya melanjutkan ke babak berikutnya, namun ia tidak bisa berbuat banyak karena permainan sepak bola saat ini tidak hanya murni milik dunia olahraga tapi juga adalah milik dunia usaha yang ingin melipat gandakan penghasilannya dari permainan sepak bola ini. Dan iapun harus “menghormati” keputusan yang di buat oleh UEFA.
Lebih lanjut ke thema RESPECT, bila diperhatikan dari pemain yang tampil dari setiap negara yang berpartisipasi, hampir keseluruhan team bisa di temukan pemain dengan kulit warna yang beragam. Team team dari negara di eropa saat ini tidak lagi di dominasi oleh pemain berwarna kulit putih, tapi sudah bercampur dengan pemain berkulit gelap. Demikian juga bila di baca dari nama nama pemainnya, tidak lagi di dominasi dengan nama nama asli eropa, tapi juga sudah bercampur dengan nama nama seperti dari nama asli Afrika, nama asli Timur Tengah, nama Latino, dan bahkan nama indonesia juga ada di team belgia, yaitu Radja Nainggolan.
Bila membahas masalah respect, sepanjang sepengetahuan saya, team Jerman sudah menerapkannya sejak dulu, tidak hanya di implementasikan dalam hal hormat menghormati antar sesama pemain tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Bila dilihat dari type permainan jerman yang sangat menjunjung tinggi kolektifitas kekuatan kerjasama team, dari sekian banyak pemain yang sudah termasuk kategori pemain terkenal, menurut pengamatan saya tidak ada satupun pemain jerman yang berusaha menonjolkan diri atas nama individu. Jerman yang terkenal dengan hirarchie Top Down nya, dan setiap pemain / setiap orang dalam team memiliki tugas masing masing, Oleh karena itu yang berhak untuk berbicara ke publik adalah orang yang sudah di tunjuk dalam team seperti Manager Team atau Pelatih Kepala, atau Kapten Team. Walaupun didalam team terdapat banyak pemain bintang yang cukup dikenal publik, tapi kalau mereka di wawancarai untuk menceritakan tentang Team nya, pastinya ia akan selalu mengelak demi menghormati Kapten Teamnya, atau demi menghormati Kepala Pelatihnya atau demi menghormati Manager Teamnya. Atau singkat kata, semuanya berusaha menjunjung tinggi etika RESPECT sehingga hubungan harmonis bisa terus terjalin diantara pemain didalam team.
Budaya respect yang biasa saya amati di team jerman, mungkin berbeda dengan budaya respect yang berlaku di team lain dari negara eropa lainnya. Salah satu contohnya adalah Team Swedia yang memiliki mega bintang Zlatan Ibrahimovic. Ketika Swedia meakukan press-conference menjelang pertandingannya yang ketiga (atau pertandingan mereka yang terakhir) yang merupakan partai penentuan apakah team swedia bisa lolos ke babak selanjutnya atau tidak, karena di dua pertandingan sebelumnya Swedia kalah dari team Itali dan bermain serie dengan irlandia. Dan untuk bisa lolos ke babak berikutnya, satu satunya cara buat swedia adalah mengalahkan team belgia di pertandingan mereka yang ketiga Entah karena tidak yakin atau karena ada alasan lainnya, Zlatan Ibrahimovic tiba tiba di saat press conference bersama team swedia mengumumkan pengunduran dirinya dari turnamen internasional selepas kejuaraan Piala Eropa 2016 ini. Dimana seharusnya ia bersama pelatih swedia menjelaskan hal hal yang ada hubungannya dengan info team swedia, namun saat itu ia malah lebih banyak menjelaskan tentang rencana pribadinya. Kejadian seperti ini di Jerman mungkin jarang ditemui, seorang pemain mengedepankan rencana pribadinya di saat ia sedang berjuang mewakili negaranya. Karena hal itu termasuk sikap “non respectable attitude” yang tidak menghormati kepentingan team dan tidak menjaga perasaan team.
Pengumuman pengunduran diri dari Ibrahimovic bila dilihat dari sisi psikologis team, tentulah akan men-demotivasi teman teman satu teamnya, karena pengumuman pengunduran dirinya sehari sebelum bertanding ibarat menyampaikan pesan menyerah sebelum berperang. Dan seperti memang sudah di duga, swediapun akhirnya kalah dari belgia dan akhirnya tersingkir dari turnamen piala eropa. Dan sang mega bintang Zlatan Ibrahimovic seperti janjinya akhirnya tidak lagi bermain untuk swedia untuk selamanya. Pengumuman bergabungnya Ibrahimovic yang ia sampaikan di media sosial mendahului pengumuman resmi club Manchester United dimana ia bergabung setelah kejuaran piala eropa 2016, juga banyak di sayangkan oleh para fans yang mengerti betul akan makna dari “Respect”. Ego Ibrahimovic selaku bintang sepakbola dan ketidaksabarannya tentulah merugikan clubnya Manchester United secara moral, karena tidak seharusnya seorang pemain merasa dirinya lebih penting atau lebih terkenal bila di bandingkan dengan clubnya, demikian komentar salah satu fans sepakbola di media sosial. Attitude yang tidak respect akan norma norma kehidupan sosial, mungkin jarang di jumpai pada pemain sepakbola team jerman.
Refleksi
To make a long story short, aturan yang sifatnya mengikat dan wajib untuk dipatuhi memang perlu kita ketahui. Dan pihak yang berwenang pun wajib untuk terus mensosialisasikan aturannya kepada warganya melalui berbagai media, seperti apa yang dilakukan oleh panitia sepak bola Euro 2016. Walaupun aturan “Say No to Racism” yang dibuat oleh UEFA sifatnya lebih kepada anjuran, namun penyampaian pesannya dilakukan dengan berbagai cara di berbagai media dan disampaikannya secara kontinue. Hal ini secara perlahan membuat setiap orang jadi peduli dan sadar diri untuk mematuhinya.
Dalam kehidupan aktifitas sehari hari di jerman, para commuter pengguna kereta di jerman, mereka memang tidak di check satu persatu dipintu masuk keretanya ataupun di pintu masuk stasiun seperti layaknya stasiun atau layaknya kereta di negara lain. Namun walaupun tidak di check satu persatu, namun pesan pengumuman “Schwarzfahren ist unfair” yang artinya “penumpang gelap bepergian tanpa ticket adalah tidak fair” hampir ditemukan di setiap dinding kereta ataupun di setiap dinding stasiun. Pesan moral yang disampaikan dengan cara pendekatan lain di jerman dan ada dimana mana, membuat masyarakatnya sadar diri untuk “respect” menghormati aturan yang di terapkan oleh pemerintah jerman. Sebuah kebiasan menghormati aturan yang patut kita tiru sebagai individu dan patut kita terapkan di tanah air. Pejabat ditanah air yang diantik dan di sumpah sesuai dengan agamanya masing masing untuk tidak korupsi, semestinya sumpah jabatan yang diucapkannya di bawah kitab suci wajib untuk di hormati walaupun tidak ada yang mengawasinya.
Mengakhiri artikel ringan saya kali ini, memaknai arti RESPECT yang sesungguhnya bukanlah sebuah sikap yang harus kita jalankan karena paksaan dari luar, melainkan sebuah keinginan yang harus datang dari dalam diri sendiri. Respect itu muncul karena kemampuan menselaraskan antara apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita jalankan, dan dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Team sepak bola jerman di segani (diberikan respect) oleh team lainnya atau oleh supporter lainnya, lebih karena sikap ataupun attitude yang mereka tunjukkan. Team Jerman memberikan rasa hormat dengan menghargai dirinya sendiri dan menghargai team lainnya, sehingga merekapun mendapatkan rasa hormat yang mereka berikan. Pun demikian dengan pendatang yang datang ke jerman sangat patuh akan aturan yang berlaku di jerman, bukan karena mereka takut akan hukuman yang akan dikenakan, melainkan karena masyarakat jerman memberikan contoh terlebih dahulu mematuhi aturannya, sehingga akhirnya para pendatang pun ikut serta mematuhi aturan yang berlaku di jerman.

