Cerita Singkat Dari Brasil
Olaa…Bom Dia…. begitulah sapaan pertama yang saya terima ketika baru mendarat di bandara São Paolo (baca: Sam Paolo). Sekilas terkesan budaya penduduk brasil tidak berbeda jauh dengan budaya penduduk di tanah air yang ramah dan relax. Orang yang menjemput saya pun sangat ramah, walaupun ada keterbatasan dalam berbahasa inggris namun ia berusaha semaksimal mungkin untuk menjalin komunikasi dengan saya.
Sembari meluncur ke tempat tujuan yang berjarak sekitar 3 jam dari bandara, sayapun diajak melintasi kota metropolitan São Paolo yang kurang lebih sama dengan kota metropolitan lainnya seperti Jakarta. Kota sub urban yang saya lintasi yang mengelilingi kota São Paolo tampak dari jalan tol juga kurang lebih sama dengan kota sub urban bekasi penunjang kota jakarta.
Yang mungkin membedakan kota Sao Paolo dengan kota Jakarta adalah banyaknya apartement tinggi yang sepertinya affordable untuk masyarakat kota Sao Paolo, sehingga tampak merata dan tidak terlalu mencolok terlihat antara si kaya dan si miskin. Perbedaan lainnya yang juga saya amati adalah ukuran mobil yang agak kecil ukurannya dan jumlah sepeda motor yang tidak terlalu banyak atau tidak sebanyak jumlah motor yang ada di setiap kota di tanah air.
Budaya disiplin mengemudi ataupun disiplin berkendaraan motor di brasil memang tidak serapi di jerman, tapi saya amati tetap lebih baik dari budaya disiplin berkendaraan motor di tanah air yang sering zigzag mengabaikan marka jalan yang ada. Ini mungkin disebabkan karena ada pengaruh budaya eropa khususnya budaya portugis yang mendominasi ras masyarakat brasil, dimana mereka masih menghormati hukum ataupun aturan berlalu lintas di jalan raya.
Hampir 3 jam melaju di jalan toll , akhirnya saya pun tiba di tempat tujuan dan langsung memulai aktiitas. Seperti sudah terbiasa merantau dan terbiasa menjadi tamu di daerah orang lain, saya pun tidak mengalami kesulitan dalam berbaur dengan customer yang saya tuju. Dimana kaki berpijak disana langit di junjung, selalu teringat di benak pikiran saya, dan saya pun berusaha belajar sepatah dua patah kata bahasa portugis hanya untuk berusaha bisa berbaur dengan mereka. Apapun isi percakapan saya dengan masyarakat brasil, tidak pernah lupa saya selipkan pujian kepada mereka tentang kelezatan makanannya, keindahan daerah brasil, ataupun tentang kemajuan industrie di brasil. Karena saya meyakini setiap human being pada prinsipnya senang di puji, dan pujian pun ibarat minyak pelumas yang mampu melicinkan jalannya mesin, begitu juga dengan memberikan pujian kepada rekan rekan di brasil semakin membantu komunikasi dan pekerjaaan saya selama di brasil.
Hari demi hari berlalu tidak terasa karena disibukkan dengan pekerjaan ditemani rekan kerja dari jerman yang memang sudah hampir setahun di lapangan. Disamping itu juga menu makan siang keseharian di tempat kerja yang memang tidak jauh berbeda dengan masakan asia yang di dominasi dengan nasi yang walaupun agak keras namun tetap enak untuk dimakan. Sayuran kacang-kacangan yang melengkapi menu nasi hampir setiap hari di sajikan di kantin tempat bekerja, semakin membuat saya nyaman karena lidah asia yang juga terbiasa dengan sayur kacang-kacangan. Dan yang terakhir menu daging ataupun ikan yang bumbunya sama persis dengan bumbu di tanah air menjadikan menu makan siang di kantin tempat kerja serasa membuat saya sedang berada di asia.
Dan tiba saatnya, setelah hampir 3 minggu di lapangan, sayapun harus kembali ke jerman meninggalkan customer dan rekan kerja saya dari jerman juga. Seperti kata pepatah, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Hal itupun berlaku pada kunjungan saya ke brasil. Persahabatan dan kerjasama singkat dengan customer serta dengan rekan kerja harus berakhir. Rekan kerja yang sebelumnya tampak senang mendapatkan teman tampak begitu sedih ketika ditinggal. Seperti memang sudah menjadi takdir bagi laki laki yang berkewajiban bekerja mencari nafkah, yang terkadang dihadapkan kepada pilihan bertugas jauh dari keluarga namun mendapatkan kompensasi dari penghasilan tambahan uang jalan. Kembali bertugas di kantor namun tidak ada tambahan uang jalan. Masalah dilematis ini sepertinya dihadapi oleh rekan kerja saya, yang sempat membawa istrinya menemaninya merantau di brasil, namun sayangnya istrinya tidak betah di brasil dan harus kembali ke jerman meninggalkannya seorang diri di lapangan.
Singkat cerita, saya kembali ke airport Sao Paolo di antar oleh sopir yang menjemput saya sebelumnya. Percapakan ringan sambil di selipin bahasa portugis ala kadarnya pun mengisi komunikasi saya dengan yang mengantar saya selama perjalanan menuju airport. Ia sempat menanyakan kepada saya bagaimana pendapat saya tentang brasil, dan sayapun mengatakan bahwa saya senang dengan brasil, senang dengan masakan brasil, dan senang dengan keramahan masyarakat brasil.
Iapun selanjutnya bertanya kepada saya, bagaimana pendapat saya mengenai wanita brasil….. ? hahaha …. Komunikasi yang semula terjalin santun akhirnya pecah dengan ketawa… karena seperti sudah saya duga sebelumnya… obrolan laki-laki entah itu dari asia ataupun dari belahan bumi lainnya seperti dari brasil memang tidak jauh dari cerita “harta-tahta-wanita” , sayapun menjawab dengan diplomatis bahwa wanita brasil cantik-cantik seperti apa yang sering saya lihat di televisi. Saya juga menyampaikan kepadanya dengan jujur bahwa ketika saya pertama kali mendarat di airport Sao Paolo, yang pertama kali ingin saya ketahui sesungguhnya adalah wanita brasil seperti apa rupa dan ragamnya di Negara aslinya di brasil. Dan memang benar mereka memang tampak cantik cantik seperti yang biasa saya tonton di televisi.
Mengakhiri cerita ringan saya kali ini, bisa memiliki kesempatan mengunjungi brasil, sedari awal tidak pernah terpikirkan oleh saya. Negara Brasil yang sepertinya bergerak menuju arah Negara industrie, membuat masyarakatnya sibuk atau di sibukkan dengan pekerjaannya masing masing, dan hampir jarang terdengan percakapan politik diantara mereka. Perusahan yang banyak dijumpai di jerman hampir semuanya buka cabang di brasil dan menjadikan brasil sebagai pusat regional untuk memproduksi barang barang ataupun kendaraan mobil yang akan di jualnya di amerika selatan. Walaupun tampak ada berbagai etnis di masyarakat brasil seperti etnis eropa atau khususnya etnis portugis, etnis indian atau etnis asli amerika selatan , dan etnis afrika, namun di pengamatan saya mereka tampak kompak bersahabat. Ketika saya sampaikan bahwa saya berasal dari Indonesia, hampir setiap orang dari mereka mangatakan bahwa Indonesia is beautiful.
Di seumuran kita yang sudah cukup dewasa, saling hormat menghormati dan saling menghargai sepertinya sudah merupakan kewajiban kita untuk memulai dimanapun kita berada demi terjalinnya persahabatan. Mengutif pepatah jerman : “wie du in den Wald hineinruf so halt es wieder”, yang artinya bagaimana dikau berseru kedalam hutan, demikianlah gaung yang kembali kepadamu. Dengan menghormati orang lain terlebih dahulu, merekapun menghormati kita sebaliknya. begitulah kira-ira aturan yang berlaku dalam kehidupan sosial kita.
Akhirnya setelah ngobrol panjang lebar ngalor ngidul, sayapun tiba di bandara, hingga saya sampaikan Obrigado yang artinya terimakasih, eu tenho que voar para a Alemanha .. saya harus terbang ke jerman, vê-lo na próxima vez… sampai jumpa dikemudian hari„. Kutipan percakapan seperti ini tentulah sudah saya persiapkan sehari sebelumnya dan sudah saya hapal berkali kali, agar bisa menjalin komunikasi dengan baik dengan yang akan mengantar saya ke bandara…. hehe…Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan buat saya




