Dimana Bumi di Pijak, Disana Langit di Junjung

Dimana Bumi di Pijak, Disana Langit di Junjung

by -
0 473

Ditengah ketidak menentuan situasi dunia, khususnya apa yang terjadi di negara Turki, menyebabkan hampir di setiap kota di Jerman terdapat demo besar besaran yang dilakukan oleh mereka yang mendukung (pro) pemimpinnya saat ini Erdogan atau mereka yang kontra Erdogan. Yang pro Erdogan karena bersimpati kepada erdogan yang hampir di kudeta oleh militernya, sementara yang kontra Erdogan karena Erdogan dianggapnya terlalu diktator dan membuat keputusan menutup akademi militernya serta memecat banyak  aparat pemerintahannya. Tidak sedikit ending story dari demonstrasi orang turki yang berlangsung di kota jerman itu berakhir dengan pengerusakan gedung milik perwakilan turki di jerman. Demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat perantauan turki di jerman tentulah sudah mendapatkan ijin dari pemerintah lokal jerman. Ada yang dilangsungkan di pusat kota, ada yang dilangsungkan di dekat Hauptbahnhof (stasiun kereta api), ada yang dilaksanakan di pinggiran sungai seperti di Köln, ada yang dilangsungkan di kantor pemerintahan turki di jerman seperti di kantor kedubes turki di jerman ataupun di kantor konsulat turki di jerman. Demonstrasi itu ditanggapi beragam oleh sebagian besar masyarakat jerman, hal ini saya amati dari komentar yang beredar di koran online ataupun di media sosial. Yang berkomentar hampir sebagian besar menanyakan kenapa masyarakat turki yang merantau di jerman ini berdemonstrasi di negeri jerman, bila memang masih mencintai kampung halamannya ataupun ke negaranya, kenapa mereka tidak kembali turki dan berdemo dinegaranya sendiri.

migratiKetidaksukaan masyarakat jerman melihat ketenangan negerinya terusik dengan demonstrasi yang tidak ada hubungannya dengan negerinya tentulah bisa di mengerti dan bisa terima dengan logika. Dengan terus bertambahnya komunitas turki di jerman setiap tahunnya, bagi sebagian besar masyarakat jerman menganggapnya ibarat sebuah bomb waktu yang suatu saat nanti seiring berjalannya waktu mungkin akan menjadi masalah sosial bagi negerinya atau yang di khawatirkan akan mungkin mengalahkan jumlah populasi warga asli jermannya, demikian salah satu komentar yang saya baca di facebook. Ketidak mampuan masyarakat turki untuk berintegrasi dengan budaya asli jerman, baik itu warga turki yang sudah lama menetap di jerman ataupun yang baru datang di jerman. Dan kebiasaan masyarakat turki hidup berkelompok didalam komunitasnya sendiri di jerman, menghambat program integrasi yang ditetapkan pemerintah jerman kepada para pendatang agar bisa berbaur dengan warga lokal.  Koran Spiegel online bahkan pernah memuat dokumen yang di tandai sebagai dokumen rahasia namun boleh di ketahui oleh publik dan dalam dokumen itu tertulis: “Orang Jerman tidak mempunyai masalah dengan orang Portugal, Italia bahkan dengan orang Asia Tenggara, karena komunitas mereka mampu menyatu dengan baik, Tapi orang Turki datang dari budaya yang khas dan tidak bisa bisa menyatu dengan baik.“ Dan didalam dokument itu juga dituliskan sejarah kedatangan warga turki ke jerman atau di mulainya warga turki bermigrasi ke Jerman pada bulan Oktober tahun 1961 ketika perjanjian kerjasama perekrutan buruh tenaga kerja ditandatangani kedua negara. Di dalam dokument rahasia itu memang tertulis secara explisit efek samping dari perjanjian kerjasama mendatangkan migrant turki ke jerman yang permasalahannya dirasakan oleh pemerintahan jerman yang sekarang.

merkelWalaupun issue imigrant merupakan masalah sensitif dikalangan masyarakat jerman, Namun pemerintahnya sendiri tidaklah pernah berhenti untuk memberikan suaka politik kepada mereka yang ingin mengadu nasib atau berkeinginan untuk menetap di jerman. Kebijakan pemimpin Jerman Angela Merkel menerima pengungsi suriah yang termasuk terbesar diantara negara negara yang tergabung dalam Uni Eropa, yang walaupun kebijakannya di tolak oleh masyarakatnya sendiri, Angela Merkel dengan keteguhan prinsipnya tetap berkeyakinan bahwa negeri jerman sebagai negeri yang makmur wajib untuk membantu masyarakat internasional untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kebijakan menerima Refugee (atau dalam bahasa Jerman Flüchtlingen) dari Suriah (Syria) seakan seperti membangunkan macan yang tertidur pulas. Masyarakat Jerman yang terkenal tidak begitu peduli dengan politik karena selalu sibuk dengan bekerja seperti terpaksa menunda liburannya untuk ikut serta berdemo menentang kebijakan pemimpinnya untuk tidak (terlalu banyak) menerima pencari suaka untuk tinggal di Jerman. Dan lagi lagi karena permasalahan imigrant ini, mau tidak mau kedatangan pengsungsi suriah kemudian di hubung hubungkan dengan peristiwa kedatangan warga turki di tahun 1961 yang kian tahun jumlahnya kian bertambah banyak. Bundes Kanselerin Angela Merkel kembali menegaskan keteguhan sikapnya pada kebijakannya untuk menerima pengungsi dihadapan lawan politiknya dan dihadapan masyarakat Jerman. Merkel bahkan mengecam negara-negara Eropa Timur yang memasang pagar baru di Eropa, yang mencerminkan ketidaksudian belajar dari kenangan hidup pahit mereka ketika berada di balik Tirai Besi tatkala masih jadi negara Komunis. Dan Merkel juga mengkritik sikap pilih kasih dalam menerima pengungsi, dan mengatakan apa gunanya membela orang-orang Kristen di seluruh dunia, sementara menutup pintu bagi pengungsi Muslim. Merkel pun berulang ulang mengatakan : Untuk Apa Jadi Kristen Kalau Menolak Pengungsi Muslim?

CaptureKehadiran para pengungsi pencari suaka politik yang sudah tiba di negeri jerman tidaklah mudah untuk dikembalikan ke negeri asalnya. Tapi masyarakat jerman tetaplah menyesali keputusan pemimpinnya dan bahkan menanyakan kepada pemerintahnya kenapa negara Jerman termasuk negara yang menerima jumlah suaka paling banyak di Eropa bila di bandingkan dengan negara tetangganya di Eropa yang di khawatirkan akan menimbulkan masalah sosial di masyarakat.  Peristiwa penembakan yang terjadi di kota Munchen yang dilakukan oleh anak perantauan dari Iran yang berumur 18 tahun dianggapnya sebagai sebuah kegagalan dari program integrasi yang diterapkan pemerintah jerman, ada juga yang menganggapnya sebagai akibat dari kebijakan pemerintah jerman yang begitu lunak dalam menerima pendatang, dan ada juga yang menanggapnya sebagai kegagalan berintegrasi dari pendatang itu sendiri dengan lingkungannya ataupun di sekolahnya. Peristiwa bomb bunuh diri yang terjadi di kota Ansbach (kota dekat Nürnberg) yang dilakukan oleh pendatang suriah yang lamaran suaka politiknya di tolak, seperti memberikan pembenaran kepada apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat asli jerman yang merasa kota kota di jerman saat ini mulai tidak aman lagi. Tapi walaupun terdapat permasalahan yang diakibatkan oleh segelintir pengungsi ataupun oleh keturunan pengungsi yang gagal berintegrasi, Angela Merkel kembali meyakinkan warganya dengan mengatakan: Lernt einfach mal einen Flüchtling persönlich kennen, yang artinya “belajarlah berkenalan dengan para pengungsi itu secara pribadi” dan juga menyarankan kepada para pengungsi untuk cepatlan belajar beradaptasi dengan budaya serta adat istiadat di jerman sehingga bisa hidup berbaur.

img_eventsMengakhiri cerita ringan saya kali ini, tidak ada maksud saya untuk mengungkapkan hal hal yang sensitif untuk di baca di artikel ini. Dan sayapun sebagai pribadi tidak punya masalah dengan para pendatang dari Turki ataupun dari negeri lainnya. Tapi  yang ingin saya bagi ceritanya di artikel ini dan yang tentunya menarik buat saya adalah berbagi cerita perjuangan para perantau untuk memperbaiki masa depannya, keberanian mereka merantau jauh untuk menimba pengalaman hidup dengan segala suka dan dukanya. Perjuangan seperti ini tentu ada hikmah yang bisa saya petik dan bisa saya pelajari bagaimana mereka beradaptasi dengan perbedaan, membiasakan diri hidup dalam kemajemukan, berusaha mengerti perbedaan orang lain. Begitu juga saya pelajari sifat dan sikap warga asli jerman yang dalam posisi harus menerima warga pendatang karena kebijakan pemerintahnya. Dari permasalahan sosial kemasyarakatan seperti ini memberikan masukan kepada saya, agar kita bisa diterima dengan baik dilingkungan kita, adalah penting untuk menerapkan dalam kehidupan kita: dimana bumi di pijak disanalah langit di junjung, hal ini mengingatkan saya akan prinsip keharmonisan dan proses adaptasi yang juga dikenal di bali yaitu “Desa Kala Patra”  untuk belajar berbaur dengan meghormati adat istiada daerah ataupun negara dimana kita tinggal sesuai dengan Desa (Tempat), Kala (Waktu), Patra (Kondisi).

FacebookTwitterGoogle+Share

SIMILAR ARTICLES

0 256

0 566

NO COMMENTS

Leave a Reply