Keharmonisan Keluarga Awal Keberhasilan Hidup
Ketika saya pertama kali makan döner, saya dilayani oleh pedagang muda suami dan istri yang merupakan pemilik rumah makan döner itu. Entah kenapa batin saya begitu senang melihat kekompakan pasangan suami istri itu yang mengarungi bahtera hidupnya bersama sama dalam suka dan duka berusaha bersama dalam mencari nafkah keluarga dengan bejualan döner bersama sama. Seperti layaknya usaha kecil lainnya, layanan dan sentuhan customer support dari sang pemilik bahwa customer adalah raja membuat siapa saja yang menjadi pelanggannya pasti senang berbelanja ke rumah makan dönnernya dan selalu ingin kembali lagi entah karena dönnernya yang enak atau hanya karena ingin mensupport sang pemilik dönner ini. Bila dibandingkan dengan dönner lainnya, bagi lidah seperti saya atau kebanyakan orang asia, sepertinya rasa dönnernya hampir tidak beda jauh dengan dönner turki lainnya, namun yang membuatnya spesial serta membedakannya dari dönner lainnya adalah pelayanan sang pemilik döner ini, work with passion and serve the customer with love. Sepertinya pasangan muda suami istri ini mengerti betul aturan serta tata cara berdagang dan mengerti betul cara memikat pelanggannya bahwa whatever we do, do it with something very special to distinguish ourselves from others.
Pengalaman menyenangkan yang saya alami di jerman pernah juga saya saya alami di tanah air ketika makan di rumah makan padang. Pasangan muda suami istri memulai usaha rumah makan padang bersama sama yang di bangunnya sejak mereka menikah membangun bahtera keluarga. Rumah makannya memang kecil bila di lihat dari ukurannya namun pelayanan yang ramah dari sang pemilik seolah membuat rumah makannya lapang karena semua pembeli dilayaninya dengan sangat baik. Seperti kebanyakan usaha yang di bangun oleh generasi pertama selalu menjunjung tinggi prinsip customer satisfaction first dan pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan baik. Hal seperti itulah yang saya jumpai di rumah makan padang di tanah air atau di rumah makan döner di jerman yang tidak hanya mengenyangkan perut tapi juga menyenangkan pikiran karena dilayani dengan baik oleh pemiliknya yang menampilkan keharmonisan rumah tangganya sebagai suami dan istri.
Menjaga hubungan harmonis suami dan istri adalah tanggung jawab setiap orang yang berumah tangga. Membahagiakan istri adalah tanggung jawab sang suami. Begitu juga sebaliknya mendukung suami adalah tanggung jawab sang istri. Hanya dengan cara seperti itu bahtera rumah tangga akan melaju kedepan dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Keberhasilan dalam membina keluarga adalah langkah awal dalam menapaki keberhasilan selanjutnya seperti dalam menjalankan usaha atau berkarir dalam pekerjaan. Hal ini sangat di mengerti sekali oleh pemerintah jerman yang selalu mengharapkan setiap warganya bisa hidup harmoni didalam keluarganya, itu makanya hari minggu dijadikannya sebagai hari keluarga dengan menutup semua toko dan hanya mengijinkan rumah makan dan caffee yang buka. Ini dimaksudkan tidak lain agar setiap warganya bisa meluangkan waktunya lebih banyak mendekatkan diri dengan pasangannya, dengan kekasihnya, dengan keluarganya dengan ngajak istrinya atau anak anaknya makan bersama dirumah makan atau mengajaknya rekreasi di taman, atau mengajak bepergian keluar kota. Sebuah solusi kehidupan yang kesannya sederhana tapi Quality Time yang didapatkannya menciptakan produktivitas yang luar biasa bagi sebagian besar orang jerman yang bisa menikmati hari minggunya bersama kekasihnya, atau dengan pasangannya atau dengan keluarganya. Sehingga tidak ada istilah „I dont like Monday“ bagi sebagian besar orang jerman, karena mereka sudah cukup melepas kangen di hari minggu dan siap bekerja di hari senin.
Bercerita mengenai keharmonisan keluarga ataupun keharmonisan pasangan hidup laki dan perempuan, bukanlah di dominasi oleh cerita kehidupan masa kini. Para pendahulu kita juga banyak bercerita tentang kemesraan sang dewa dengan sang dewi. Seperti cerita Kamajaya dan kamaratih. Dimana Sang Hyang Kamajaya yang merupakan anak Semar (Hyang Ismaya) dilambangkan sebagai Dewa cinta dan berparas elok sekali. Kamajaya beristrikan Dewi Kamaratih, putri Sang Hyang Resi Soma. Dewi ini sebangsa bidadari yang sangat cantiknya. Kamajaya dan Kamaratih yang digambarkan tidak pernah berpisah dan bahkan senang bercengkerama di taman. Pesan yang ingin di sampaikan dari cerita “Kamajaya dan Kamaratih” adalah pada prinsipnya perlunya kesetiaan seorang suami pada istrinya dan begitu juga sebaliknya perlunya kesetiaan seorang istri pada suaminya, dimana terwujudnya kesejahteraan adalah bermula dari keluarga dan dari keharmonisan suami dan istri. Di balik kesuksesan seorang pria, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Sebagai seorang istri, perempuan diharapkan berlaku sebagai pendamping suami. Ketika menjadi ibu, perempuan diharapkan menjelma menjadi ibu yang baik. Ketika berkarir, perempuan diharapkan melakukan yang terbaik sesuai dengan kapasitas kemampuannya. Demikian juga sebaliknya dengan seorang pria, juga harus bertanggung jawab kepada istri dan anaknya serta keluarganya. Bekerja dengan baik di tempat kerjanya demi kesuksesan kariernya serta terus menjunjung tinggi kesetiaan dengan istrinya yang sudah merawat serta menjaga anak anaknya hasil pernikahannya yang didasari dengan rasa cinta, itulah intisari cerita “Kama jaya – kama Ratih”.
Lebih lanjut bercerita tentang kesetiaan pasangan hidup juga banyak di ceritakan dalam itihasa Ramayana yaitu tentang kesetiaan Dewi Sita pada Sang Rama, dan juga dalam cerita pewayangan mengenai kesetiaan Dewi Sawitri pada suaminya Dewa Setiawan. Intisari dari cerita tersebut menjelaskan ISTRI yang berasal dari kata “stri” dalam bahasa Sansekerta berarti “Pengikat Kasih“. Fungsinya sebagai stri adalah menjaga jalinan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya. Anak anak hasil pernikahan haruslah ditumbuhkan jiwa dan raganya dengan curahan kasih ibu. Seorang istri selain sebagai ibu dalam rumah tangga terkadang juga sebagai Dewi dan Permaisuri. Istri sebagai Dewi merupakan sinar yang menentukan keadaan rumah tangga. Sedangkan istri sebagai Parmaisuri berasal dari kata Parama yang artinya pertama atau utama, dan kata Iswari yang artinya pemimpin. Dengan demikian keadaan lahir bathin rumah tangga/keluarga sangat tergantung pada sang ibu sebagai pemimpin rumah tangga dalam mengatur tata hubungan, tata garha, tata bhoga, tata keuangan, tata busana dan sebagainya. Oleh karena itu tepatlah bila didalam kehidupan keluarga dikatakan istri yang sebagai dewi, permaisuri, sebagai ibu memegang peranan penting. Karena disamping ayah atau suami, ibu juga ikut menentukan jalannya rumah tangga. Peranan ibu sebagai pendorong dan penasehat dalam mendampingi kehidupan berkeluarga dengan suami yang dicintainya sebagai teman hidupnya yang terdekat adalah merupakan pengamalan dari rasa kesetiaannya. Demikianlah rangkuman cerita klasik yang saya gemari saya baca baca diwaktu luang, yang selalu saya ambil intisarinya untuk diterapkan dalam kehidupan berumah tangga.
Mengkahiri cerita ringan saya kali ini, seperti apa yang disampaikan oleh motivator Mario teguh: Tidak ada laki laki yang bisa disebut sepenuhnya sukses jika wanitanya tidak bahagia. Seandainya sang suami tidak bisa membahagiakan seperti apa yang diharapkan oleh sang istri, minimal sang suami tidak menyakiti perasaan istrinya. Ketidak sengajaan dalam mengucapkan kata kata yang bisa menyinggung perasaan sang istri, memerlukan waktu yang cukup untuk mengembalikan perasaannya seperti sedia kala. Dont hurt anyone. It takes a few seconds to hurt people you love, and it can take years to heal, demikianlah pepatah menyarankan kita untuk selalu bertutur kata yang baik dan selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, khususnya pasangan hidup kita.




