Belajar dari Uni Eropa: Bersama Kita Kuat
Gemeinsam sind wir stark, yang artinya: bersama kita kuat. Demikian sentilan kata kanselir Jerman Angela Merkel menanggapi Inggris Raya (UK) keluar dari Uni Eropa. Jerman pantas kecewa dengan hasil referendum brexit karena usaha yang di perjuangkannya sejak dulu untuk mempersatukan daratan eropa dengan kepulauan yang ada di eropa, baik itu dalam bidang ekonomi ataupun politik, setelah referendum Brexit, kelangsungan Uni Eropa mengalami cobaan.
Merkel dalam pidato politiknya tentu menghormati keputusan rakyat inggris raya yang dibuatnya secara demokratis melalui voting dengan kemenangan 52% pihak yang ingin berpisah dari Uni Eropa berbannding 48% pihak yang kalah yang masih ingin bergabung dengan EU. Di dalam EU inggris memang termasuk negara yang stabil dari sisi ekonomi dan politik, dan memang ikut membantu membuat EU menjadi kokoh. Ditengah persatuan dan persaudaraan rakyat eropa yang tergabung dalam EU, tentu ada harga yang memang harus dibayar oleh inggris seperti iuran wajib keanggotaa. Tidak itu saja dengan menjadi anggota EU, Inggris juga harus lapang dada sudi menerima orang eropa daratan yang ingin tinggal atau ingin mencari kerja secara bebas hanya dengan bermodalkan KTP EU.
Kebijakan EU untuk wajib menerima pengungsi dan pencari suaka dalam jumlah yang cukup banyak dan di sesuaikan dengan kondisi perekenomian negara anggota EU, menjadikan inggris semakin terjepit tidak ada pilihan harus terpaksa juga menerima pengungsi sesuai kesepakatan bersama EU. Kewajiban menerima pencari suaka yang tidak sesuai dengan hati nurani sebagian besar rakyat inggris, semakin mempercepat keinginan rakyat inggris untuk terbebas dari beban yang harus di pikul dengan menjadi anggota EU. Hingga akhirnya terbitlah referendum Brexit untuk menentukan nasib sendiri rakyat inggris raya sesuai dengan pilihan hati nurani melalui voting demokratik.
Pasca referendum Brexit, saya senang sekali membaca baca berita ulasan pro dan kontra hasil voting di koran online di internet dan komentar di media sosial. Adu argument antara yang mendukung dan yang menyesali keputusan brexit ini membantu menambah pengetahuan dan wawasan saya tentang manfaat ataupun kerugian dari setiap negara bila bergabung dengan Uni Eropa. Bila diamati dan dipelajari dengan seksama dari kacamata netral mengenai argument dari kedua kubu yang ikut voting, saya rasa keduanya memiliki unsur kebenaran.
Swiss, selaku negara yg terletak di tengah tengah daratan eropa yang di apit oleh hampir seluruh anggota EU tetap dengan pendirian dan keyakinannya untuk tidak ikut bergabung dengan EU dan tidak ikut menggunakan mata Uang Euro. Keberhasilan serta keteguhan prinsip dari Swiss tidak luput di sebut sebagai referensi pembenaran oleh para pemenang voting dari referendum brexit bahwa UK di kemudian hari akan tetap survive dan memiliki nilai mata uang yang cukup stabil walaupun tidak menjadi bagian dari EU. Sementara analisa dari kubu yang kalah voting lebih mengkhawatirkan akan nasib orang inggris yang tersebar bekerja didaratan eropa yang mungkin dirasakan akan mulai mengalami masalah birokrasi ijin kerja di EU. Kekhawatiran mereka juga pada harga kebutuhan pokok yang di supply dari eropa daratan ke kepulauan inggris akan mengalami ketidakstabilan harga yang disebabkan oleh mulainya bea cukai yang ditambahkan. Dan masih banyak lagi adu argument lainya yang di utarakan oleh kedua kubu, yang tentu ikut menambah wawasan saya dalam mengerti permasalahan yang terjadi di eropa ini.
Bak nasi sudah menjadi bubur, Keputusanpun sudah di buat melalui referendumyang demokratis dan tentunya harus di hormati oleh mayoritas anggota EU lainnya apapun keinginan mayoritas rakyat inggris raya. Kanselir Jerman pun dalam pidatonya mengatakan EU akan tetap berjalan sesuai rencana dan tetap akan saling membantu anggotanya untuk maju dan besar bersama seperti apa yang sudah pernah dilakukan EU terhadap yunani ketika yunani mengalami masa sulit dengan krisis ekonominya. Perjalanan panjang dalam usaha menyatukan negara negara di Eropa menjadi Uni Eropa dan usaha menyatukan mata uang yang berlaku di eropa menjadi Euro tentu membutuhkan waktu dan kerjasama dari anggotanya untuk menuju kesempurnaan. Demikian salah satu kutipan pidato kanselir Jerman Angela Merkel menanggapi hasil referendum brexit.
Jerman memang dikenal berhasil karena filosofi kolektifitasnya yang mereka junjung tinggi yaitu “zusammenarbeit“ atau working together dan hampir terbukti menuai hasil yang baik, seperti dalam olahraga sepakbola yang sedang berlangsung di piala eropa 2016 ataupun ketika piala dunia 2014 di brasil. Begitu juga dalam kerjasama ekonomi dan politik, dimana Jerman sebagai motor penggerak terbentuknya Uni Eropa dan mata uang Euro dan bahkan dalam dunia usaha kerjasama yang erat atara lembaga pendidikan dengan dunia usaha yang saling mendukung dan saling melengkapi, membuat perekonomian jerman selalu unggul dan sering berhasil melewati masa masa sulit krisis global.
Refleksi
Mengakhiri cerita ringan saya kali ini, pengalaman saya merantau di jerman dan berdasarkan pengamatan saya berinteraksi dengan teman teman jerman, saya amati orang jerman memang agak lama bila harus membuat keputusan karena mereka sangat mempertimbangkan dengan matang apa yang akan mereka putuskan. Setelah keputusan itu dibuatnya dan sudah menjadi kesepakatan biasanya jarang sekali berubah ataupun di rubah. Secara individu saya amati teman teman jerman tidak banyak yang menonjol seperti teman teman saya dari asia. Tapi secara kolektive teman teman jerman banyak yang terbukti bisa menghasilkan produk yang mereka bisa banggakan. Kekuatan mereka sepertinya terletak pada “the power of teamwork” atau mereka biasa sebut “zusammen macht uns stark”.
Akhir kata, Kita hidup penuh dengan perbedaan, baik agama, suku, dan sebagainya. Kita pun bisa berbeda di setiap ruang dan waktu. Yang sama biarlah sama. Jadikan perbedaan itu sebagai lahan untuk melatih diri untuk saling menghargai. Demikianlah pesan bijak menyarankan kita berpedoman dalam mengarungi kehidupan yang majemuk ini. Tidak ada kupu-kupu yang bisa terbang hanya bermodalkan sayap semata. Ia membutuhkan persahabatan dengan alam dan kehidupan. Kitapun demikian di tuntut untuk selalu belajar bekerjasama dengan siapapun karena kita memang dilahirkan untuk saling membutuhkan satu sama lainnya.




