Mengedepankan Persamaan Diatas Perbedaan
Di awal tahun 2010 saya pernah membaca artikel di internet di koran online jerman dengan judul Dua Pura Hindu yang cukup besar akan segera dibangun di Berlin.
Menurut masyarakat India yang berdomisili di Jerman mengatakan kini terdapat dua kelompok masyarakat Hindu yang sudah mengajukan izin pembangunan Pura di Neukölln, Berlin. Pura yang pertama bernama Pura Hindu Sri Ganesha dan Pura yang kedua bernama Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan. Adapun yang membedakan diantara kedua Pura itu adalah terletak pada dewa yang di sembah. Di Pura Hindu Sri Ganesha menyembah Dewa Ganesha yang merupakan dewa kebijaksanaan, sedangkan di Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan, dewa yang di sembah adalah dewa Murugan, yang merupakan dewa perang dan dewa keindahan. Disamping itu juga, kedua Pura Hindu tersebut dibangun oleh dua yayasan Hindu yang berbeda.
Pura Hindu Sri Ganesha dengan ukuran panjang 18 meter x lebar 18 meter dengan ketinggian 6 meter, dan Gapura pintu masuk menara setinggi 17 meter, serta berada pada area 5.000 meter persegi didalam Taman kota Hasenheide akan menjadikannya sebagai Pura yang terbesar di Jerman dan akan menjadi Pura yang terbesar kedua di Eropa setelah Pura Hindu Shri Venkateswara, yang terletak di dekat Birmingham UK.
Pembangunan Pura Hindu Sri Ganesha ini diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 850.000. Pura ini akan mampu menampung pengunjung sembahyang hingga 300 orang sekali waktu. Sementara Pura Hindu Mayurapathy Sri Murugan akan menempati area seluas 200 meter persegi dengan 9 meter tinggi Gapura, di area seluas 744 meter persegi yang terletak di sudut jalan Riese di tengah kota Berlin dan diperkirakan akan menghabiskan biaya sekitar € 600.000 .
Layout bangunan Pura akan berukuran 18 x 18 meter dengan ketinggian 6 meter. Pura akan dibangun sesuai dengan pedoman dari Veda dan Agama sastras dengan warna tradisional. Gapura pertama yang merupakan pintu masuk Pura di disain setinggi 17 meter menghadap jalan (Hasenheide) yang akan dihiasi dengan ikon dan symbol. Gapura kedua, atau dikenal dengan nama Gapura Vimana, diletakkan di atas gedung Pura yang dilambangkan sebagai tempat berstana nya dewa utama yaitu Sri Ganesha.
Adapun yang melatar belakangi pembangunan Pura Sri Ganesha ini adalah didasari oleh keinginan murni dari masyarakat hindu yang berdomisili di Berlin agar bisa memiliki tempat persembahyangan sendiri setelah sekian lama melakukan persembahyangan doa bersama didalam flat atau diruangan bawah tanah (keller), namun keinginan ini baru dapat di wujudkan di bulan juni 2004 berkat dukungan dari walikota distrik (kabupaten) Neuköln, Heinz Buschkowsky (pejabat dari partai politik SPD), yang dengan murah hati menawarkan lokasi area di Taman Hasenheide sebagai tempat untuk berdirinya Pura tersebut dengan perjanjian kontrak tanah tempat dibangunnya Pura di taman Hasenheide di bebaskan dari sewa tanah hingga tahun 2080. Ditawarkannya area di Taman Hasenheide oleh pemerintah daerah Neuköln, disamping karena ketersediaan ruang yang cukup luas untuk proyek pembangunan Pura ini, tempat ini juga dapat di jangkau dengan sistem transportasi umum (kereta bawah tanah dan bus), dan tempat parkir mobil diarea inipun cukup memadai serta terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya.
Untuk mendukung terwujudnya Pura Hindu Sri Ganesha, kelompok masyarakat hindu di berlin ini membentuk sebuah yayasan dengan nama yang sama dengan nama Pura yang ingin didirikannya, yaitu yayasan Sri Ganesha Hindu Temple, yang bertujuan untuk mendukung (mempercepat) pelaksanaan pembangunan Pura serta menjadikannya sebagai pusat kegiatan masyarakat dan kebudayaan. Yayasan ini terdaftar di berlin sebagai e.V. (non-profit organisation) pada tahun 2006, dan juga di akui oleh otoritas keuangan di Jerman sebagai sebuah organisasi amal (non profit). Rancang bangun Pura Sri Ganesha ini di disain oleh arsitek dari India dengan harapan agar bisa menampilkan keaslian unsur kebudayaan Indianya dan bekerja sama dengan seorang arsitek jerman dengan tujuan agar sesuai dengan peraturan yang berlaku di Jerman. Bahan bangunan yang terbuat dari batu paras akan di datangkan langsung dari India.
Demikianlah kutipan artikel yang pernah saya rangkum dari internet dan saya muat di majalah mediahindu di tanah air di tahun 2010. Artikel lengkapnya tentulah cukup panjang lebar. Namun kali ini saya hanya ingin berbagi cerita yang sederhana saja yang saya hubungkan dengan komunitas kami masyarakat bali di jerman yang tergabung dalam organisasi Nyama Braya Bali di jerman yang beragama Hindu dalam konteks kerjasama dengan komunitas Hindu India di Jerman.
Ketika ground braking awal mula pembangunan Pura (Temple) Hindu Ganesha di Berlin dilaksanakan, koordinator Public Relation dari yayasan Hindu Ganesha Berlin, ibu Badmi, wanita keturunan India yang kelahiran Padang Sumatera Barat dan saat ini tinggal di Berlin, turut mengundang komunitas Bali di Berlin (NBB Berlin) dan mengatakan bahwa beliau sempat menghubungi Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan ditembusan ke Gubernur Bali. Dalam pertemuannya dengan PHDI beliau mengusulkan jika Perkumpulan Nyama Braya Bali di Jerman atau di Berlin bisa ikut bergabung dengan projekt mereka. Dan kata ibu Badmi, beliau mendapat respon baik dari pihak Indonesia, akan tetapi dengan syarat dengan persetujuan kerjasama Nyama Braya Bali di Berlin. Kerjasama Konkret misalnya: NBB Berlin akan mendapat bagian lahan skitar 1 Are di Outdoor di lahan temple sebagai tempat berdirinya Pura/ Padmasana khusus untuk umat Hindu dari Bali atau dari Indonesia, dan membuat Event bersama dengan Hindu India di Berlin. Usulan mengenai Event ini dimaksudkan untuk menginformasikan pesan „universality“ serta bisa meyakinkan ke ” Dunia luar” bahwa umat Hindu bisa berteman baik dengan agama Hindu dimanapun berada.
Sebuah usulan yang tentunya sangatlah menarik dan sungguh sangat mulia bisa menjalin kerjasama yang harmoni dengan komunitas lainnya, dan sesuai dengan filosofi yang diyakini masyarakat di Bali dengan Tri Hita Karana , yaitu menjalin hubungan harmonis tidak hanya dengan Tuhan, melainkan juga dengan alam lingkungan, dan sesama manusia. Namun mengingat saat ini komunitas bali di berlin yang tergabung dalam Nyama Braya Bali (NBB) Berlin sudah menyanggupi tanggung jawab melestarikan Pura Hindu di Taman Wisata Marzhan Berlin yang didirikan oleh pemerintah kota Berlin, dengan melangsungkan upacara dan perayaan secara berkesinambungan di saat hari baik bulan Purnama dan hari raya umat hindu lainnya, dan mengingat jumlah anggota dari NBB Berlin yang terbatas dengan tanggung jawab masing masing sebagai karyawan / karyawati di Berlin, sebagai ibu rumah tangga, sebagai pelajar. Usulan kerjasama yang di tawarkan oleh Ibu Badmi yang mewakili komunitas Hindu India di Berlin tentunya di tanggapi dengan opini yang beragam di internal komunitas Bali di Berlin, tentunya ada yang setuju menyanggupi kerjasama ini dan ada yang tidak setuju karena keterbatasan waktu dan tentunya komitmen kerjasama jangka panjang yang harus di hormati.
Bila dilihat dari rangkaian acara ground breaking pembangunan Tempel Hindu Ganesha Berlin, bagi orang yang awam akan sekilas melihat persamaan dan perbedaan ritual dari rangkaian upacara yang dilaksanakan umat hindu India bila di hubungkan dengan ground breaking pembangunan pura yang biasanya dilaksanakan oleh umat hindu di Bali. Bila di lihat dari persamaannya: proses penanaman batu pertama, atau di bali di istilahkan dengan sebutan “mendem pedagingan” atau menanam kelima unsur bumi “Panca Datu” dengan tujuan agar bangunan yang dibuat bisa terhubung dengan inti bumi. Persamaan lainnya yaitu jalinan kebersamaan dengan ikut serta makan bersama makanan persembahan upacara dan yang terakhir adalah berdoa bersama dengan melafalkan mantra gayatri mantra dsb. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa berbaur dengan komunitas internasional, ritual upacara yang dilaksanakan oleh komunitas lainnya tentulah ada sisi pebedaannya yang mungkin dibedakan karena sisipan budaya dari mana mereka berasal. Perbedaan yang terlihat misalnya ketika patung Ganesha dimandikan dengan susu dan bahkan ditambahkan dengan yoghurt, dibersihkan sampai diusap usap. Dan ketika acara makan bersama, suguhan makanan yang di sajikan oleh komunitas hindu india benar benar tidak ada daging.
Berdasarkan pertimbangan karena keterbatasan jumlah anggota dari NBB Berlin yang berani menyanggupi untuk berkomitmen dalam jalinan kerjasama jangka panjang dengan komunitas Hindu India di Berlin, akhirnya kerjasama konkrit dalam bentuk pembangunan Pura Padmasana di area Tempel Hindu Ganesha hingga saat ini di tunda. Namun demikian kerjasama dalam bentuk non-formal lainnya seperti jalinan silaturahmi tetaplah terjalin dengan erat atara komunitas Hindu India di Berlin dengan komunitas Nyama Braya Bali di Berlin. Bahkan di setiap perayaan yang berlangsung di Pura Tri Hita karana Berlin, komunitas NBB Berlin selalu mengundang komunitas Hindu India di berlin.
Refleksi
Sebuah pengalaman yang menarik tentunya untuk di ceritakan atau di share, dalam konteks usaha menjalin kerjasama sesama perantauan di negeri orang. Sesama jauh dari kampung halaman, sesama rindu akan kampung halaman, ditengah perbedaan yang kita miliki, hanya persamaan yang kita miliki lah yang bisa membantu mempererat jalinan pertemanan dan persaudaraan kita. Sebagaimana saya selalu memandang orang asia selalu dari sisi persamaannya sesama orang asia, dan bukan membedakannya bahwa saya dari indonesia dan mereka dari india. Pun demikian bila bertemu dengan teman sesama dari indonesia, selalu saya lihat dari persamaannya bahwa kami berasal dari satu negara. Selalu mengedepankan persamaan yang kita miliki , secara tidak langsung selalu meringankan saya dalam berpikir dan bertindak.
Ketika Swami Hindu Internasional yang berasal dari Hawai USA mengunjungi Umat Hindu di Jerman (umat Hindu India dan Umat Hindu yang berasal dari Indonesia), mereka menekankan dalam praktek menjalankan ajaran agama, konteksnya tidak hanya menjalin hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, tapi juga menjaga hubungan harmonis dengan alam lingkungan , dan menjaga hubungan harmonis antar sesama manusia. Event ataupun acara keagamaan sebisa mungkin tidak hanya di selenggarakan untuk kalangan sendiri tapi juga dilengkapi dengan acara sosial untuk membantu sesama, seperti salah satu contohnya dengan melakukan acara donor darah untuk disumbangkan kepada palang merah, yang tentunya bisa bermanfaat buat orang lain.
Mengakhiri artikel ringan saya kali ini, betul seperti apa yang dikatakan para Swami dari Hawai tersebut, dimanapun kita berada , kita memang sebaiknya selalu berusaha agar keberadaan kita selalu bermanfaat buat orang lain, sehingga hidup kita ataupun perjalanan hidup kita bisa lebih bermakna.




