Kincir Angin di Nusa Penida

Kincir Angin di Nusa Penida

by -
0 1502

Wind Power atau dalam bahasa Indonesia di kenal dengan istilah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) adalah salah satu sumber energy yang ramah lingkungan, karena energy nya berasal dari hasil konversi dari tenaga angin menjadi energy listrik. Sesungguhnya di negeri kita di Indonesia yang merupakan negeri kepulauan yang di kelilingin oleh pantai yang luas dengan kecepatan anginnya yang cukup tinggi dan konstant, sudah memiliki salah satu sumber pokok untuk bisa mewujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) ini sebanyak mungkin di tanah air , namun dalam penerapannya tidaklah mudah. salah satu kendalanya adalah masih mahalnya biaya investasi untuk mewujudkan PLTB atau mendirikan sebuah kincir angin, bahkan untuk yang terkecil dan sederhana sekalipun.

menurut berita di koran, salah satu kincir angin sederhana yang diberi nama EGRA (energy gratis) seharga kurang lebih 60 juta rupiah. output yang bisa di sumbangkan dari sebuah kincir angin sederhana ini pun memang relativ cukup kecil masih dalam ukuran Kilo Watt (ruang lingkup rumahan atau perkampungan) bila di bandingkan dengan membangun pembangkit listrik konvensional lainnya seperti Pembangkit Listrik tenaga Air yang berbahan bakar batu bara ataupun minyak yang bisa memberikan output hingga 350MW keatas.. , Namun bila mengacu kepada gambar diatas (Wind Power yang professional), dimana satu batang kincir anginnya minimal menghasilkan 1MW atau 2 MW, dan bila seandainya setiap rumah tangga membutuhkan 500W listrik, 1MW bisa mencukupi kebutuhan 2000 rumah tangga di sekitarnya.

Proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), yang konon merupakan pertama di Indonesia, sesungguhnya sudahlah di laksanakan di kepulauan Nusa Penida, kabupaten Klungkung Bali, persisnya berada di puncak bukit Mundi. Bupati Klungkung mewakili pemerintah sudah membuat kesepakatan dengan Perusahan Listrik Negara (PLN) distribusi bali. Kepulauan Nusa Penida boleh kecil, tetapi ternyata menyimpan sumber daya alam yang tidak di miliki oleh daerah lainnya. Sumber Daya Alam (SDA) itu adalah tenaga angin dimana pihak PLN Bali tertarik memanfaatkannya sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), minimal sebagai proyek percontohan PLTB di Indonesia.

Kepulauan Nusa Penida yang terpisahkan dari daratan Pulau Bali, sesungguhnya memang sangat membutuhkan energy listrik yang setiap tahun kian terus meningkat, terlebih di sebabkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk setempat dan meningkatnya permintaan dari industry pariwisata di Nusa Penida, khususnya wisata diving dari pulau ceningan. Untuk mendukung keinginan para pemuka adat setempat yang merencanakan kepulauan nusa penida sebagai pulau wisata spiritual dan wisata bahari, pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu ini sangatlah sejalan dengan idea tersebut, karena tidak akan mengotori lingkungan ataupun laut nusa penida. dan bahkan seandainya kincir angin ini terdapat dalam jumlah banyak (atau dalam bahasa asingnya di kenal dengan istilah Wind Farm), seperti tampak di gambar dibawah, mungkin kompleks pembangkit listrik tenaga Bayu ini bisa juga di jadikan sebagai kawasa wisata, kususnya untuk menarik wisatawan nusantara yang di daerahnya belum sempat memilikinya.

Lebih lanjut, keinginan untuk bisa mewujudkan Wind Farm (kompleks kincir angin) di Nusa Penida saya kira bukanlah sebuah mimpi di siang bolong, sebenarnya PLTB di Nusa Penida sudah mulai di bangun sejak bulan Desember 2005, satu unit. kemudian bertambah satu unit lagi pada tahun 2006. dimana masing-masing berkapasitas 1 x 80KW di Nusa Penida. Dilanjutkan pembangunan tujuh unit Kincir Angin PLTB , plus satu unit PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) pada tahun 2007. Dengan begitu , jumlah PLTB yang terpasang saat ini di Nusa Penida adalah sebanyak sembilan unit dengan kapasitas 735 KW di tambah dengan satu unit Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS) 30KW.

Selanjutnya bila para pejabat daerah di bali seperti bapak gubernur bali beserta wakil rakyat di DPRD bali ingin membuat pulau Bali ini menjadi lebih mandiri, mengutamakan “import” energy listrik dari kepulauan Nusa Penida  bila di bandingkan dengan “import” suply energy litsrik dari Paiton di Jawa Timur, supply listrik jawa-bali melalui kabel bawah laut, mungkin bisa dijadikan sebagai solusi alternatif. Sehingga dengan semakin meningkatnya permintaan listrik dari penduduk bali daratan terhadap energy listrik dari Nusa Penida, di masa datang saya yakin jumlah kincir angin di kepulauan Nusa Penida akan terus bertambah hingga menjadi sebuah perkampungan kincir angin, yang tentunya akan sangat mungkin menjadi object wisata yang unik juga.

Refleksi

Mengakhiri artikel ini, dimana saya memang sengaja tidak membahas hal-hal yang berhubungan dengan teknis tentang cara kerja ataupun cara beroperasinya Wind Power ini, di samping karena hal-hal teknis tersebut bisa di google atau di cari di wikipedia, juga karena issue yang ingin saya angkat disini lebih mengedepankan kepada hal-hal sosial kemasyarakatannya, khususnya issue yang terjadi di kabupaten klungkung ataupun di provinsi bali, sehingga bisa di jadikan sebagai sebuah “reminder” untuk terus mengingatkan para cendikiawan di bali untuk terus peduli akan permasalahan yang ada di pulau bali.

Mengutip kata orang bijak: “Great Strategy will be nothing without execution” , Execution without proper planning will also be meaning less. mari kita harapkan semuanya bisa berjalan sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan, sehingga akan semakin banyak anak-anak di Nusa Penida yang bisa belajar lebih lama lagi di malah hari, serta akan semakin banyak lagi anak-anak pintar yang lahir dari kepulauan Nusa Penida yang merupakan bagian dari kabupaten klungkung ini, dan yang lebih penting lagi adalah, kedepannya pulau bali bisa lebih mandiri lagi bila masih ingin terus mengumandangkan permohonan ke pemerintah pusat di jakarta agar Provinsi Bali menjadi provinsi yang memiliki Otonomi Khusus karena alasan Adat istiadat, Budaya serta Agama.

windenergie1

FacebookTwitterGoogle+Share

SIMILAR ARTICLES

NO COMMENTS

Leave a Reply