Kenangan di Kota DIli

Saat Timor Timur merdeka dari Indonesia, ada kesedihan terasa di hati. Pikiran melayang kembali saat berkunjung ke kota Dili untuk install komputer di instansi pemerintah. Kenangan di kota Dili yang tak terlupakan walau hanya beberapa hari.
Awalnya bermula dari lab di elektro mendapat proyek untuk meng-install komputer HP di instansi pemerintah di beberapa daerah sementara saya cuma mengerjakan tugas akhir, banyak waktu kosong. Saya dan teman-teman ikutan mendaftar untuk mengerjakan proyek ini. Teman-teman banyak memilih yang dekat dan nyaman. Ada pilihan ke Irian/Papua, tetapi saya lebih memilih ke Dili, Timor Timur. Alasannya penasaran ingin melihat bagaimana Timor Timur walau banyak kerusuhan terjadi. Alasan lainnya akan dijelaskan di paragraf selanjutnya 😀
Setelah diberi short training bagaimana menginstall komputer dan aplikasinya, kita mendapat tiket dan uang saku untuk pergi ke masing-masing daerah tugas. Saya merasa semangat untuk bisa pergi secepatnya. Kata orang banyak cewe indo yang cantik di Dili, turunan Portugis ceunah 😀 Sayang jatah tugas hanya 3 hari, jadi harus direncanakan kegiatan yang pas untuk 3 hari.
Pada harinya saya harus pergi jam 4 subuh ke bandara karena pesawat terbang jam 6 pagi. Sambil sedikit menggerutu dan mengantuk, terpaksa naik taksi ke bandara, karena tidak ada penerbangan lain kecuali Merpati ke Dili. Hanya satu kali sehari. Dengan semangat 45, begitu sampai bandara, langsung check-in ke ticket counter. Ternyata pesawatnya penuh juga, banyak yang terbang ke Dili.
Tunggu punya tunggu, ada pengumuman pesawat rusak, masih sedang diperbaiki. Jam terbang molor jam 9 pagi. Saya masih bisa memaklumi karena memang tidak ada pilihan lain. Sampai jam 9, ada pengumuman lagi penerbangan di-cancel untuk hari ini, besok baru ada penerbangannya. Sambil mengomel-omel dalam hati, saya ke ticket counter untuk daftar besok. Rencana yang dibuat berantakan, yang ada cuma memikirkan bagaimana bisa install semuanya dalam satu hari. Belum lagi acara jalan-jalannya 🙁
Keesokan harinya ritual yang sama dilakukan, pagi jam 4 pergi ke bandara dengan harapan tidak di-cancel lagi. Kali ini cuma ditunda satu jam, dan akhirnya terbang. Saya bisa bernafas dengan lega, Dili, here I come! Duduk berjam-jam dipesawat terasa lebih nyaman dibandingkan di-cancel hari sebelumnya.
Pesawat mendarat di bandara kecil, mirip terminal bis. Saya tidak kaget karena sudah pengalaman di tempat yang lebih mengerikan lagi di Samarinda (bandara nya masih ada sapi lalu-lalang, dan anak-anak main). Ambil bagasi dan langsung cabut cari taksi. Taksi relatif mudah didapat dan supirnya juga ramah-ramah. Agak mengejutkan karena daerah konflik biasanya sangar-sangar.
Sampai di kantor instansi pemerintah, kantornya terlihat sepi. Agak kaget juga, sekitar jam 11 siang koq kosong. Ketemu office boy yang mengurus kantor, masih muda dan ramah. Dia jelaskan pegawainya lagi makan siang (bingung koq udah makan siang ya). Sambil menunggu pegawai kembali kantor, office boy bercerita tentang keluarganya yang habis dibantai fretilin. Kata dia, ortu, paman, saudara-saudaranya ditawan dibawah tanah dan ditutup pakai seng, jadi mereka mati kepanasan. Mendengarnya saja menyedihkan sekali, tetapi dia tidak terlihat marah atau dendam, seperti pasrah saja. Saya cuma bisa mendengarkan, tidak bisa berkomentar apa-apa karena itu sudah sangat tragis.
Saat terbengong-bengong mendengarkan cerita office boy ini, pegawainya satu persatu kembali ke kantor. Itu kira-kira jam 2 siang. Karena kepepet waktu, secepatnya saya minta mereka untuk menunjukkan tempat komputer. Sementara install komputer dan programnya, jam 4 sore pegawainya sebagian sudah pulang kantor. Saya penasaran tanya jam berapa masuk, office boy nya bilang jam 10 pagi dan pulang jam 4 sore. Dalam hati saya cuma bisa bilang santai banget!
Selesai install, saya harus konfirmasi tiket balik di kantor Merpati. Pegawai disitu menawarkan untuk mengantarkan ke kantor Merpati. Benar-benar ramah dan baik hati. Saya ikut mobil mereka, pas mau jalan, mereka bilang mau mampir ke rumah dulu sebentar. Saya iyakan saja, sekalian mau lihat bagaimana daerah disitu.
Mobil melewati jalan yang lebar dan lengang. Tiba-tiba membelok ke sungai kering dan melewati jalur sungai itu sampai dirumah salah satu pegawai. Saya kaget, kalau di Bandung jalan dinamakan nama sungai, kalau di Dili, sungai dijadikan jalan 😀 Berhenti sebentar di tempat mereka, kembali lagi lewat jalur sungai yang sama. Saya tanya ini biasa ya lewat sungai. Mereka bilang kalau sungainya kering mereka lewat situ.
Akhirnya sampai di kantor Merpati. Dari bandara sampai selesai instalasi belum ada ketemu cewe indo yang dibilang orang. Cukup meragukan jadinya 😀 Tapi semua berubah ketika bertemu dengan pegawai Merpati yang mengurus tiket. Wah ternyata benar juga, mirip Filipina turunan Portugis. Seperti lagu Iwan Fals “Mata Indah Bola Pingpong”, cewe indo nya cantik dan menawan (hmm kayaknya mengingatkan seseorang) 😉 saya menunggu tiket dikonfirmasi sambil berkata dalam hati, koq cuma sebentar yah disini 😀
Dengan berat hati, saya ikut kembali ke kantor bareng pegawai pemerintah. Dari situ saya pergi jalan kaki ke hotel. Sampai dihotel, karena tidak ada warteg, cari makanan kecil ke toko kecil dan beli kue bawang. Balik ke hotel sambil makan kue bawang masih terasa sebal juga cuma satu hari, besok nya harus kembali ke Jakarta.
Besok siangnya saya naik taksi ke bandara. Masih berharap-harap mungkin bisa ketemu cewe indo lain di bandara 😀 Bukan cewe indo yang banyak, malah tentara dan keluarga yang banyak menunggu terbang ke Jakarta. Ditambah pesawat tertunda 3 jam, pikiran saya sudah buyar, lebih fokus bisa kembali ke Jakarta secepatnya!
Hanya dua hari, dan sehari yang benar-benar ada interaksi, tapi memberikan kenangan indah di ingatan saya. Suatu hari saya ingin kembali mengunjungi, walau kalau jadi harus menggunakan pasport.
Lagu wajib:D Rita Effendi – Januari Di Kota Dili




