Garuda di Dadaku
Suku Indian nun jauh di Amerika sana bermukim di perkampungan terpencil, di wilayah pegunungan. Tempat mereka bekerja, ladang pertanian yang tidak terlalu subur, masih lebih jauh lagi di pinggir hutan nan gersang.
Tiap hari mereka berangkat kerja di pagi hari, dan pulang ke pemukiman setelah senja. Pada suatu senja ketika pulang ke rumah, seorang di antara mereka menemukan sebutir telur elang rajawali di sebuah batu di tubir jurang. Telur ini dibawa pulang dan diletakkan dlm sarang induk ayam yg persis hari itu mulai mengeram………….
Dua puluh satu hari kemudian, menetaslah sejumlah anak ayam plus satu anak elang rajawali, yg tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah anak elang rajawali. Mereka semua tumbuh besar sebagai anak ayam, dan mengembangkan sikap, perilaku serta kebiasaan sebagai anak ayam, termasuk si anak elang rajawali.
Pada suatu hari, si anak elang rajawali ter-kagum2 memandang elang rajawali dg gagah dan anggun-nya menjelajah angkasa. Kepada induknya ia bertanya, “Ibu, siapakah dia yg jauh tinggi di langit itu? Betapa gagahnya! Alangkah senangnya, kalau aku bisa seperti dia”. Induk ayam pun menjawab, “Dia itulah seekor elang rajawali nak. Raja dari semua jenis burung. Kita tdk mungkin bisa seperti dia. Kita hanyalah mahluk bumi, sedangkan elang rajawali itu adalah juga mahluk penguasa langit”.
Demikianlah, si anak elang rajawali semakin yakin, bahwa dirinya hanyalah seekor anak ayam. Dan selanjutnya ia tumbuh besar, menjadi dewasa, menjadi tua, dan akhirnya mati sebagai ayam kampung. Padahal dia itu sesungguhnya adalah seekor elang rajawali. Ada “Garuda Di Dadanya”, yg tanpa sadar ia lupakan, ia abaikan………
Refleksi
Jangan biarkan anak2 cucu kita seperti nasib si anak elang rajawali ini. Mari bertanya kepada nurani masing2, apa yg mesti saya lakukan? Bagaimana saya bisa mengantarkan mereka agar terbang lepas menjelajah angkasa, menjelajah berbagai kemungkinan yang tak terbatas.
Oleh: Alm. dr. Nyoman Sutrisna Widjaja MPH



