Saya dan Tulisan

Saya dan Tulisan

by -
2 540

Saya adalah orang yang kurang suka menulis. Seingat saya nilai mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia adalah biasa-biasa saja. Waktu saya sekolah SD, saya sangat malas sekali mengerjakan pekerjaan mengarang. Namanya juga mengarang, jadi yang saya tulis isinya karangan, terkadang apa saja yang ada di kepala saya saat itu, bisa berupa fantasi, walaupun temanya sudah ditentukan oleh sang guru.

Saya selamat melanjutkan sekolah dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi tanpa ada sesuatu yang mengganjal di bidang bahasa. Syukurlah guru-gurunya baik-baik saja, apalagi pelajaran Bahasa Indonesia adalah suatu pelajaran yang biasanya anak-anak sekolah selalu mendapat nilai bagus, nilai 8 atau 9 adalah sesuatu yang mudah didapat tanpa kesulitan yang berarti.

Suatu saat saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di suatu perguruan tinggi di Australia dengan beasiswa AusAID. Sebelum berangkat, saya harus lulus ujian IELTS yang ada tes menulisnya. Selama 3 bulan, saya diharuskan mengikuti kursus Bahasa Inggris dalam rangka persiapan belajar keluar negeri. Disinilah pertama kali saya merasa kemampuan menulis saya begitu buruknya. Setiap kali ada PR menulis, nilai saya adalah C dan C, kecuali apabila tema menulisnya untuk menggambarkan suatu proses, nilai B adalah mudah didapat oleh saya. Pernah suatu kali sang guru, yang berasal dari Scotlandia ini, memotivasi saya besar-besaran dengan memberi sebuah tugas menulis. Saya pun berusaha berpikir dengan sungguh-sungguh sesuai dengan petunjuk yang diajarkan untuk mengerjakan tugas tersebut. Sehari kemudian sang guru datang kepada saya, yang sedang belajar di perpustakaan, dengan wajah berseri-seri dia berkata “Kartika, kamu telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Lanjutkan menulis seperti ini.”, sambil menunjukkan hasil karangan saya yang mendapat nilai B+. Saya melihat hasilnya dengan kecewa “Guru, saya ingin dapat nilai A.” Mendengar jawaban saya sang guru terkejut dan diam seribu-basa. Sepertinya sang guru mengharapkan saya akan menampilkan ekspresi yang gembira dengan nilai B+ ini. Di saat murid lain dengan mudahnya mendapat nilai A atau B, saya harus berjuang setengah mati untuk mendapatkannya. Tetapi keajaiban selalu saja terjadi, saya lulus ujian IELTS dan berhasil melanjutkan studi S2 di bidang Elektronika.

Beberapa tahun pun berlalu sampai saya tinggal dan menetap di Singapura. Dikarenakan suatu hal, saya terinspirasi untuk mengambil kuliah part-time MBA. Syarat kuliah MBA adalah lulus ujian GMAT. Lagi-lagi ada tes menulisnya. Terus terang mengambil tes GMAT adalah sesuatu hal yang tidak biasa, bisa dikatakan luar-biasa, oleh karena itu saya pun mengambil kursus persiapan GMAT. Setiap mengerjakan tugas menulis online, tit…. selalu saja ide-ide saya selalu macet dan tidak bisa menulis ratusan kalimat dengan lancar. Tetapi keajaiban selalu saja terjadi, saya lulus ujian GMAT dan berhasil diterima belajar di salah satu perguruan tinggi di Singapura.

Masalah demi masalah terjadi ketika saya mengambil kuliah part-time MBA. Tugas menulisnya adalah sangat banyak… Beruntunglah saya karena kebanyakan tugas adalah tugas kelompok, sehingga saya banyak terbantu oleh teman yang pandai menulis. Suatu waktu ada tugas kelompok yang mana sayalah yang harus mengerjakannya. Saya harus membuat tulisan case study mengenai Toyota. Saya mengerjakan tugas tersebut dengan waktu yang sangat kepepet, karena kuliah part-time saya sambi dengan bekerja, tidak ada cukup waktu untuk berleha-leha. Dengan mencuri-curi waktu kerja, saya berusaha menulis sebaik-baiknya, dan dengan pasrah tugas tersebut saya kumpulkan di kelas atas nama kelompok. Hasilnya…. sangat mengerikan saudara-saudara. Dosennya adalah sangat baik masih memberi nilai B-. Semua orang di kelas tahu nilai tersebut adalah nilai yang sangat keterlaluan untuk sebuah tugas kelompok. Dengan coret-coretan di sana-sini, sang dosen menegur gaya menulis saya yang sangat buruk untuk seorang mahasiswa MBA. Aduh.. mau taruh dimana wajah ini… Teman-teman kelompok saya adalah kumpulan orang-orang baik, mereka hanya melihat sekilas dan tidak ada sama sekali yang memberi komentar, juga ketika jam istirahat tiba, kami mengobrol mengenai hal-hal lain. Saya lagi-lagi selamat.

Saya selalu selamat dan merasa tidak ada yang menghambat hidup saya, yang memiliki bakat menulis pas-pasan ini. Tentunya dengan kemampuan menulis yang biasa-biasa saja, saya tidak bisa bekerja di perusahaan konsultan bisnis atau hal-hal lain yang sejenis yang memerlukan kemampuan menulis yang tinggi. Tetapi masih ada hal-hal lain yang masih bisa saya lakukan dari pelajaran bisnis yang sudah saya pelajari. Terus terang saja saya masih trauma dengan kejadian sewaktu kuliah MBA dahulu. Saya selalu ingin memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, walaupun kenyataannya adalah tidak demikian. Hal ini yang memotivasi saya untuk terus menulis di blog ini, semoga kemampuan menulis saya bisa menjadi terus lebih baik dan lebih baik lagi. Amin yra.

FacebookTwitterGoogle+Share

SIMILAR ARTICLES

0 231

2 COMMENTS

Leave a Reply