Rahasia Jendela Kantor

Rahasia Jendela Kantor

by -
4 707

JendelaSetelah sibuk pindah-pindah dan mencari tempat tinggal bareng teman, pada harinya dengan hati gembira saya mulai bekerja di kantor Motorola dekat Manchester. Seperti biasa kantor R&D berada dipinggiran, dekat kampung-kampung. Menyetir sekitar 30 menit lewat motorway (highway kalau di Amrik).  Jangan ditanya kenapa karena saya juga tidak mengerti.

Datang pagi-pagi dan pulang sore sesudah yang lain pulang. Sesudah beberapa minggu saya tidak menyadari adanya kelainan di kantor. Sepertinya selalu terang terus (bukan iklan Philips lho “terus terang Philips terang terus” 🙂 ). Biasanya saya bisa melihat mendung, hujan, panas atau perubahan cuaca dari dalam kantor.

Setelah diperhatikan lebih seksama, ternyata blind jendela kantor jarang sekali dibuka. Selalu dalam posisi tertutup sehingga saya tidak bisa melihat apa yang terjadi diluar. Ditambah lagi saya bergabung bulan November, jadi sudah mulai winter, hari cepat gelap. Jadi penasaran, kenapa orang lokal di kantor tidak suka membuka blind nya.

Suatu hari saya buka blind biar bisa melihat kondisi diluar. Awalnya cuaca lumayan cerah. Tidak beberapa lama, cuaca berubah mendung (ini langganan selama tinggal di Manchester). Teman kantor dengan cekatan menutup kembali blind tersebut. Kesempatan nih untuk bertanya dalam hati saya. Saya tanya kenapa blind selalu ditutup. Mungkin dia juga merasa aneh ada yang menanyakan hal yang sudah kebiasaan disitu.

Setelah memikir sejenak sambil menutup blind, dia menjelaskan kenapa blind tertutup sudah jadi budaya. Dia menjelaskan kebiasaan ini untuk mencegah depresi karena cuaca yang mendung dan gelap terus. Disorder ini dikenal dengan nama winter blues. Dengan menutup blind dan menyalakan lampu kantor sejak pagi hari sampai kantor tutup, semua pegawai tidak dipengaruhi cuaca diluar. Manchester dan sekitar nya tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu utara, jadi seharusnya tidak separah tempat-tempat tersebut. Tapi karena sering mendung, saya selama hidup disana cuma menikmati sinar matahari kurang dari 1/3 tahun setiap tahunnya.

Saat teman menjelaskan alasannya, ingatan saya flash back saat interview dan lunch di pub. Sewaktu interview, beberapa calon pegawai diajak makan siang dan ditanya hal-hal ringan. Satu orang menanyakan hal apa yang paling tidak disukai dari tempat itu. Saya bilang dengan polosnya cuaca nya gloomy. Cukup kaget melihat respon mereka saat mendengar jawaban itu. Mereka terlihat merengut. Saya tidak sadar saat itu kenapa merengut. Tapi setelah dijelaskan tentang blind harus ditutup, baru saya sadari mungkin mereka berpikir tidak mungkin orang ini bakal betah karena cuaca nya emang selalu gloomy atau mungkin itu mengingatkan akan misery mereka karena cuaca 😀 Pub di daerah sekitar situ juga jarang punya jendela yang lebar, biasanya cuma celah kecil yang tidak mirip jendela sama sekali.

Sejak saat itu saya jadi bisa lebih apresiasi sinar matahari, walaupun kalau di Jakarta kulit langsung terbakar karena sinar matahari berlimpah-ruah 🙂 Walau kadang juga ingin mendung, tapi selalu ingat cuaca di Manchester, mendingan terbakar kulit dibandingkan depresi karena kurang sinar matahari 😀

 

FacebookTwitterGoogle+Share

SIMILAR ARTICLES

4 COMMENTS

Leave a Reply