Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau (Sparring Partner Story)
Kisah ini bermula di akhir tahun 1982, ketika induk semang kami meninggal, saat itu orang tua saya dihadapkan pada 2 pilihan: membeli rumah di Bandung atau pindah ke kampung…
Dengan uang Rp 3 juta ditangan, jika membeli rumah di Bandung akan dapat rumah type 21 dengan luas tanah 120m2. Sedangkan di kampung harga tanah jauh lebih murah. Ayah dan Ibu sepakat utk pindah ke kampung. Akhirnya kami tinggal di sebuah rumah sederhana di Sumedang, luas tanahnya 3000 m2. Kiri-kanannya belum ada tetangga.
Tetangga terdekat ada diseberang jalan. Tinggal disana teman laki-laki sebaya yang bernama Eya (nama aslinya sy lupa). Saya dan Eya sama2 pendiam. Tak banyak yg bisa kami bicarakan. Paling cuma sesekali Eya mengajak mancing ataupun mengajak shalat bersama.
Sebulan berikutnya giliran keluarga Eya yang mendapat dilema. Kredit uang Rp 3 juta akan dibelikan apa? Beli rumah sederhana di kampung dengan luas tanah 3000m2 atau beli tanah di hutan dan hidup lebih sederhana lagi? Mereka memilih hidup di hutan. Membeli 4 hektar lahan dan membangun rumah seadanya.
120m2 tanah di Bandung = 3.000 m2 tanah di kampung = 4 hektar tanah di hutan… itulah pelajaran ekonomi pertama saya tentang tanah.
Sekolah di Bandung seperti biasa, pakaian rapi, seragam lengkap, sepatu, kaos kaki, dasi, topi, tas dsb. Sekolah di kampung cukup sendal jepit atau bahkan telanjang kaki pun boleh. Baju boleh seadanya bahkan kaos singlet pun gak masalah. Sekolah di hutan? … ha.. ha.. ha.. Disana belum ada sekolah, Kawan… welcome to the jungle… yang jelas, saya sungguh tak mengerti, kenapa Ayah Eya menjual masa depan anaknya demi menukar tanah 3.000m2 menjadi tanah 4 hektar.
Hidup berjalan terus… walupun tanpa Eya…. saya harus terus rajin belajar dan mencapai cita-cita. Hidup di kampung bukan berarti tanpa pesaing di sekolah… walaupun saya membawa gelar juara dari Bandung, tidak serta merta menjadi juara lagi di sini. Perlu hampir 3 tahun untuk akhirnya saya menjadi juara 1 di SD kampung ini…
Masuk ke SMP lebih gawat lagi. SMP Negeri cuma ada 1 di kota kecamatan. Menampung lulusan dari 52 SD negeri di kecamatan itu. Perang Bintang dari 52 SD tak terelakkan di situ. Saya beruntung, Dr Ir Yusep Rosmanyah M.Sc (EL89) berada 2 level di atas saya. Dengan ketekunan dan belajar keras luar biasa… akhirnya saya berhasil menempatkan diri setara kang Yusep. Juara diantara juara…
Masuk ke SMA tambah gawat lagi. Para juara dari 15 kecamatan bergabung di SMAN 1 Sumedang. Kang Yusep langsung menjadi Master disana… sedangkan saya harus merangkak dulu dari bawah… saya peringkat ke 25-30 diangkatan saya.
Nun jauh di sana ditempat yang hening sepi…. Ayah Eya bekerja menebang pohon di lahannya. Kayunya untuk dibuat rumah sendiri, sisanya di jual. Sementara Eya, dengan mental baja menanam pohon baru untuk menggantikan pohon yang ditebang. Diantara pohon2 kayu, Eya mencangkul dan menanam palawija..
Tujuh tahun berlalu sejak berpisah dengan Eya. Ketika saya sedang duduk di teras rumah sibuk menghapal rumus Fisika kelas 2 SMA dan mengerutkan kening mencoba menjawab soal-soal Intan Pariwara….. Saya bertemu Eya…
Eya tersenyum sambil melambaikan tangannya, sambil menyetir mobil penuh kayu di belakangnya… Saya hampiri Eya…
Saya: Mobil sendiri…?
Eya: ya, masih nyicil.. 2 tahun lagi baru Lunas.. Sekolah dimana sekarang?
Saya: SMA 1 Sumedang
Eya: wah, tambah hebat kamu, calon Habibie dari Tanjungsari..
Saya: Aamiiin…Hati2 di jalan yah.. tambah sukses bisnis kamu…
Eya: Aamiinn… Aamiiin…
Eya berlalu. Saya raih lagi buku… tiba2 saya merasa mual… ada sesuatu yang mengganjal di pikiran…. “Eya, kau sudah punya mobil, dan akan pulang membawa uang”…sedangkan aku…? masih mengemis dan menyusu….entah sampai kapan… “Rumput di Rumahmu Lebih Hijau, Kawan…”.
Hari-hari kembali berlalu. Dengan perjuangan keras di SMA, akhirnya dari peringkat 30 saya bisa menjadi peringkat ke-2.. dan berhasil masuk ke Teknik Elektro ITB. Salah satu jurusan dan kampus terhebat di negeri ini. Mungkinkah doa Eya akan terkabulkan? Saya menjadi Habiebie van Tanjungsari..?
Tapi kenyataan berikutnya terjungkir dan terbalik… IP terus menurun. 2,9 menjadi 2,4 lalu menjadi 0,6 lalu menjadi 0,5… akankah menjadi 0,0…?
Saat itulah saya kembali bertemu dengan Eya.. dia sudah punya tanah sendiri, rumah sendiri, armada pengangkutan, dan sudah meminang anak orang… WAH? “Rumput di Rumahmu Semakin Lebih Hijau, Kawan…”. Ingin rasanya pertandingan diulang lagi dari awal… tapi tidak bisa.
Bak seekor banteng yang terluka saya mengamuk membabi buta, berusaha mempelajari matematik yang sedemikian rumit, hingga akhirnya 4 tahun kemudian saya lulus menjadi Sarjana… dan saat itu saya kembali bertemu Eya…
Eya sudah menikah, sudah punya anak, tanahnya sudah berpuluh hektar, sudah punya pabrik pengolahan kayu sendiri, dan sudah naik Haji…! wah? “Rumput di Rumahmu Semakin Sangat Lebih Hijau, Kawan…”.
Krismon mungkin satu-satunya alasan klasik yang menyebabkan saya menganggur 1 tahun setelah lulus kuliah. Beruntung sebuah perusahaan Jepang di Purwakarta mau menerima saya dan mengajari saya cara membaca (lihat Artikel saya sebelumnya yang berjudul BELAJAR MEMBACA).
Setahun kemudian saya buka kedai di pekanbaru, lalu menjadi Dosen di STT Texmaco. Semua dilakukan dengan cara ngebut. Karier di STTT saya lalap dalam waktu 5 tahun…. Asisten Dosen … Dosen…. Sekjur …. Kajur … Pembantu Ketua…. dan akhirnya menjadi ketua di tahun 2005. Apa kabar Eya…?
Jalan semakin sesak dengan kendaraan. Akhirnya hutan milik Eya dibelah menjadi jalan alternatif. Rumah Eya ditengah hutan berubah menjadi Rumah strategis di pinggir jalan… puluhan hektar tanah Eya menjadi tanah yang mahal…
Sementara itu, sebagai seorang Ketua STT yang jujur, saya tak mau menggunakan kendaraan dinas untuk pulang kampung dari Subang ke Sumedang. Rute pulang kampung saya tiap dua minggu sekali adalah sbb:
1. Naik ojek dari rumah ke pasar Cipeundeuy.
2. Naik Bis kecil (semacam metromini trayek Bekasi – Sumedang) dari Cipeundey ke terminal Sumedang (Melewati Rumah Eya)
3. naik angkot dari terminal ke kota Sumedang.
4. Naik Angkot dari Kota Sumedang ke Tanjungsari
5. Naik Ojek dari Tanjungsari ke kampung
Itu jalur terdekat dibanding lewat purwakarta (6 kali naik kendaraan) atau lewat lembang/Ledeng (7 kali naik kendaraan)
Anak saya sudah 2 orang. Satu dituntun, satu digendong. Karena bis dari Bekasi, seringkali sampai di Cipeundeuy sudah penuh. Kami naik dan berdiri berjam-jam tak dapat tempat duduk. Bergelayutan sambil gantian dengan istri menggendong dan menuntun anak…. yang seringkali rewel dan tak jarang muntah-muntah….. Melewati rumah Eya…
Terlihat Eya duduk di bale-bale bambu di teras rumahnya. Anaknya banyak. Yang kecil bercengkrama dengan neneknya… setiap hari mereka berkumpul bergembira… sedangkan anak2 saya… Cuma bisa berjumpa 2 minggu sekali dengan neneknya… itu pun dengan penderitaan yang luar biasa di perjalanan. Berangkat dari Subang hari Sabtu siang… nyampe rumah di Tanjungsari sudah malam.. tidur kecapean… besoknya bermain sebentar sambil bercerita. Minggu siang harus balik lagi ke Subang.. kalo terlalu sore tak ada kendaraan…
Eya…. “Rumput di Rumahmu Semakin Amat-Amat Sangat Lebih Hijau Sekali, Kawan…”.
Akhirnya…. Ibu saya meninggal karena sakit… tak ada anak yang bisa menunggui dan mengantar kepergian Ibu… semua anak sibuk dengan pekerjaannya… (inikah nasib sarjana…?)
Setahun kemudian saya pindah ke Pekanbaru… di sini ada Ibu mertua yang juga sudah renta… biarlah istri saya merawatnya… dan biarlah saya menghormatinya sebagai pengganti Ibu saya.
Seperti biasa saya ngebut tancap gas… dari tahun 2006 mengajar hanya 4 sks di 1 kampus… maka tahun 2008 saya sudah mengajar 77 sks di 7 tempat sekaligus…. Berangkat jam 7 pagi pulang jam 9 malam…. Dari senin sampai minggu….
Jam 9 malam datang rombongan mahasiswa… minta ide dan bimbingan skripsi… bisa sampai jam 12 malam. (pernah juga sampai pagi). Jam 12 malam setelah mahasiswa pulang, biasanya saya lihat ada 5-6 laptop di ruang tamu saya. Masing2 ada tulisannya… kira-kira begini bunyinya:” Pak, tolong perbaiki laptop saya, saya perlu banget. Besok pagi saya ambil”….. wah?
Karena sering kecelakaan (jatuh dari sepeda motor karena ketiduran di jalan)… tahun 2011 akhirnya saya putuskan untuk berhenti menagajar dan membangun Bengkel Al-Kautsar Electronics. Selain itu karena konsep pendidikan semakin tak jelas, maka sayapun menyuruh istri saya berhenti kuliah dan berhenti mengajar. Dan kebetulan pula anak saya sepakat dengan Ide saya untuk berhenti sekolah setelah lulus SD…. jadilah saya bisa ngebut sekencang-kencangnya di bisnis.
Sore ini…. di Bulan September tahun 2014. Saya berdiri di balkon lantai 2 rumah saya… memandang hamparan luas membentang…. segala arah seperti tak terhalang… saya memandang ke rumah Eya…. membayangkan sejauh mata memandang adalah hutan milik Eya…. ratusan pekerja… puluhan mobil… anak-anak bercengkrama dengan neneknya…
Eya…” Rumput di Rumahmu Pasti Sudah Semakin Amat-Amat Sangat Lebih Super Hijau Sekali, Kawan…”.
Lalu sekejap bayangan menghilang, tinggalah kenyataan sebenarnya….bahwa rumah saya dikelilingi rumah-rumah tetangga…. sejauh mata memandang…. mungkin radius 2 kilometer …. rumah saya tegak berdiri paling besar dan paling tinggi dari rumah2 disekitarnya…dan anak-anak bisa berkumpul bercengkrama dengan neneknya…
Sejenak saya memejamkan mata sambil berucap syukur…. Alhamdulillah yaa Tuhan, Engkau telah mengutus Eya menjadi Sparring Partner saya…. sehingga hidup saya menjadi penuh dengan perjuangan… dan akhirnya menjadi juara…. entah juara keberapa…
SIMILAR ARTICLES
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.





Safari…..dirimu sudah menemukan jati dirimu…
seperti biasa, super sekali penuturannya, sangat memotivasi.
nuhun sharingna, kang safari.
Salut buat Kang Safari …
Semoga ada kesrmpatan utk ketemu & ngobrol lagi
3TU
Super! Ceritanya seru. Gaya penulisan cukup ringan mengalir. Ayo nulis lagi ! 🙂