Sukses bukan di ukur dari deretan gelar, timbunan harta, atau tumpukan sertifikat…… namun dari kebahagiaan di dalam diri, juga damai dan cinta kasih yang ditebar bagi banyak orang…. demikianlah status yang di tulis oleh salah satu teman saya di facebook yang tiba-tiba membuat saya berefleksi merenung dengan apa yang ia tulis lengkap dengan foto dirinya memikul beban upacara di atas kepalanya mirip seperti foto anak-anak yang kerap membantu orang tuanya mengais rejeki di pasar tradisional di bali disaat pagi hari.
Di jaman yang serba digital yang terhubung oleh jaringan internet dimana kita bisa berkomunikasi 24 jam dengan teman-teman kita, terkadang kita sering terjebak dengan perilaku yang sering membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, seberapa jauh pencapaian keberhasilan yang kita capai ataupun seberapa banyak harta yang sudah kita himpun dari hasil jerih payah kita, yang membuat seolah-olah sumber kebahagiaan selama kita hidup di dunia ini adalah di ukur dari banyaknya uang yang kita miliki atau suksesnya karir yang sudah kita capai. Namun setelah membaca status teman di facebook yang saya sebutkan diatas seperti mengingatkan saya kembali bahwa sumber kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan didalam diri dan juga kebahagiaan yang kita tebar dilingkungan kita atau kita tebar keberbagai orang.
Tidak sedikit memang mereka yang memiliki deretan gelar yang panjang, ataupun mereka yang memiliki timbunan harta yang banyak, atau mereka yang memiliki berbagai jenis usaha mengalami kesulitan dalam tidur ataupun sering tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena alasan selalu kepikiran dengan target yang harus ia capai ataupun karena padatnya jadwal kegiatan yang menanti yang harus dilaksanakannya ketika ia bangun dari tidurnya. Semua permasalahan ini tidak lain bersumber dari alasan karena mereka ingin menjadi yang terbaik diantara teman-temannya, sehingga ia harus membiasakan diri dengan kehidupan yang stress yang selalu penuh dengan tekanan. Salahkah mereka ? tentu tidak, karena setiap orang bebas memilih jalan hidupnya masing-masing, dan setiap orangpun bebas mendifinisikan makna dari kebahagiaan itu sendiri.
Namun ketika membaca status teman di facebook , seperti mengingatkan saya akan tujuan dari hidup yang sesungguhnya adalah selalu menjaga keseimbangan dengan cara selalu melihat kebelakang bila kita sudah terlalu jauh berlari kedepan, atau selalu melihat kebawah bila kita sekiranya terlalu tinggi menatap keatas. Ketika kita merantau jauh kenegeri orang, sering seringlah “mengunjungi” kampung halaman tempat kelahirang kita, atau sering-seringlah menyapa teman-teman semasa kecil kita di kampung halaman, sehingga kita bisa mengenali diri kita dengan lebih baik dengan penuh rasa syukur.
Bergabung dengan group facebook kampung halaman, memberikan saya banyak informasi tentang keadaan terkini teman-teman ketika saya kecil di kampung halaman, yang entah karena alasan pribadi atau karena alasan melanjutkan tradisi keluarga menjadi penekun spiritual ataupun menjadi pemimpin upacara agama yang artinya ia harus ikhlas mengabdikan dirinya menjadi “pelayan” Tuhan untuk membantu umat sedharma, dan hidup secara ekonomi biasa saja dalam kesederhanaan. Tidak bahagia kah mereka dengan dengan jalan hidup yang di pilihnya sekarang. tentu pertanyaan kebahagiaan seperti ini tidak selalu bisa di ukur dengan uang dan parameter keduniawian lainnya. Saya bahkan melihat foto-fotonya di facebook lebih banyak tersenyumnya bila dibandingkan dengan foto-foto yang saya miliki. Karena yang ia yakini membantu warga dikampung dengan memimpin jalannya upacara keagamaan memberikan kebahagiaan tersendiri baginya.
Cerita ataupun berita dari kampung halaman tidaklah terhenti seputar perjalanan hidup ataupun pilihan hidup yang ditempuh teman, melainkan tidak jarang saya membaca berita duka teman-teman kecil sepermainan di kampung halaman yang sudah mendahului menghadap kepada NYA, beberapa diantaranya ada yang terpaksa meninggalkan keluarga kecilnya ataupun meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil dan membiarkannya untuk berjuang melanjutkan hidup tanpa keberadaan dirinya. Sedihkah keluarga yang ditinggalkannya, tentu tidak sepenuhnya benar. Karena seperti kata pepatah, anything happen, happen for a good reason… begitu juga dengan warga dikampung, mereka juga meyakini demikian, suratan Tuhan tidak ada yang terjadi karena suatu kebetulan. Dan mereka pun tetap meyakini mampu melanjutkan hidupnya selama ia bisa menyesuaikan gaya hidupnya sesuai dengan kondisi dan penghasilan yang ia miliki, karena kebahagiaan tidaklah hanya bersumber dari banyaknya harta, melainkan bersumber dari keikhlasan hidup, kedamaian hati, dukungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dalam kesederhanaanpun sesungguhnya kita masih tetap bisa bahagia, selama kita ikhlas dan bersyukur.
Hikmah yang bisa saya petik dari banyaknya informasi yang bersliweran ataupun dari begitu cepatnya pertukaran data yang saya dapatkan dari internet ataupun dari facebook dan whatsapp, baik itu yang berbagi berita kegembiraan ataupun berita kesedihan, melihat orang yang berhasil ataupun melihat orang yang belum berhasil, adalah semakin membuat saya untuk selalu bersyukur dengan kondisi saya sekarang yang masih diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Peristiwa yang terjadi pada orang lain yang sempat saya dengar ataupun sempat saya lihat atau sempat saya baca tidak lain adalah kepanjangan dari pesan-pesan Tuhan agar saya bisa berefleksi.
Setiap orang yang kita temui tidak lain adalah “Tuhan”. Jika kita melihat seseorang yang murah senyum atau dermawan, itu adalah sosok Tuhan Yang Maha Pemurah. Dimana kita di ingatkan agar kitapun berperilaku demikian untuk selalu bermurah hati kepada orang lain. Karena sesuatu yang kita lakukan hanya untuk diri kita sendiri akan mati bersama kita. Sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan bertahan dan abadi. Demikian sebaliknya, bila kita mendengar ataupun melihat berita ataupun peristiwa tidak baik, tidak lain maknanya adalah kita di ingatkan Tuhan untuk selalu mawas diri dan selalu menjaga diri kita ataupun keluarga kita dengan sebaik-baiknya, agar kita bisa terhindar dari peristiwa itu.
Penyakit terkadang tidak hanya datang dari makanan atau minuman, fakta bahkan menyebutkan sebagian besar penyakit timbul akibat pikiran yang negatif. Hanya dengan berpikir positif, menyayangi sesama, menyayangi alam dan lingkungan, menyayangi mahluk hidup lainnya, secara tidak langsung mampu membuat kita bahagia. Karena makna dari kebahagiaan itu sendiri adalah apa yang terjadi di dalam diri ketika kita mampu membuat orang lain bahagia, entah itu lewat tulisan yang menginspirasi, ataupun lewat berbagi berita positif, ataupun berbagi sedekah, berbagi joke sehingga mampu membuat orang lain tertawa ataupun tersenyum, dan lain-lain.
Akhir kata, mari kita belajar berbagi kebahagiaan mulai sekarang.
















